BERPIKIR LUAS, ARIF DAN BIJAKSANA DALAM MENAFSIRKAN AL QUR'AN


BERPIKIR LUAS, ARIF DAN BIJAKSANA DALAM MENAFSIRKAN AL QUR'AN agar Al Qur'an bisa menjadi jalan yang Rahmatan Lil Alamiin dan bukan hanya menjadi alasan bagi kita untuk menghujat orang lain dan menebar kebencian antar sesama muslim atau umat lainnya.
SEBUAH RENUNGAN DI PEKAN TERAKHIR BULAN SUCI YANG MELATIH KERENDAHAN HATI, KESABARAN DAN KEARIFAN KITA.
Berikut petikan dialog kami yang perlu di pahami dengan hati bijaksana dan penuh kearifan.
Komentar dari salah satu facebooker tentang parenting:
Rasyid Ridho Zunnury [19:14 03/06/2014] Haikal:
Dari dulu ana mempertanyakan teori TIDAK BOLEH BERKATA JANGAN KEPADA ANAK. Sempat terfikirkan oleh ana, bukankah kalimat Jangan digunakan dalam Al-Qur'an dan Sunnah
Seperti Laa Taghdhab wa lakal jannah..
Apakah pendidikan Allaah dan Rasul-Nya tidak lebih baik dari para pakar psikologi barat...??
[19:14 03/06/2014] Haikal: Ketika mengikuti sebuah acara ttg pendidikan..ana terheran2 dgn pembicara yg melarang menggunakan kata JANGAN kepada anak didik..
[19:14 03/06/2014] Haikal: Akhmad S.Psi
Kekeliruan Buku Pendidikan : Mengharamkan Kata “Jangan”
Salah seorang pendidik pernah berkata, “pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh yahudi adalah yaitu dunia psikologidan dunia pendidikan.
Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa “kekeliruan” pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dan lainnya.
Saking masifnya sebaran tersebut, kita juga terkadang kesulitan untuk tidak mengucapkan kata jangan pada anak-anak kita. Terasa mengganjal di benak kita karena bertentangan dengan fitrah manusia apabila dalam kondisi panik dan terjepit akan mengucapkan kata ‘jangan’.
Misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini”. Tentu anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Berbeda jika kita secara refleks katakam pada anak kita “jangan nak nanti jatuh, berbahaya…” Sang anak akan kaget dan menhentikan langkahnya.
…misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini“. Anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Sudah menjangkiti beberapa para pendidik muslim, baik para ayah dan ibu, yang tercuci otaknya dan melarang berkata “Jangan” pada anak.
Mari kita lihat, beberapa perkataan-perkataan ‘dalam pendidikan’ tentang larangan mengucapkan kata jangan pada anak.
Diantaranya Ayah Edy, dia mengatakan pada bukunya yang berjudul ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30, “..gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati, berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata ‘jangan’ karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata ‘jangan’.
Pada media online, detik.com, pernah menulis judul artikel ‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’, atau “…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak…”
Pada sebuah artikel lain, berjudul, “Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, “Kata ‘jangan’ akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orang tua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak…”
Nah, inilah syubhat (keraguan) yang digembar-gemborkan media sekuler dayng merujuk pada psikolog atheis dan Yahudi. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang kronis.
Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata ‘jangan’, apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata “Laa (jangan)”?
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.
Allahu akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan ayat-ayat kebenaran ini? Apa mau dibuang? Dan diadopsi dari teori dhoif? Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman AL- Hakim?
Dalam Al Quran ada surat Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“ walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)
Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif yang ada dalam al-Qur’an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “ laa ” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti “jangan” dengan “diam/hati-hati”?Karena ini bimbingan Alloh.
Perkataan “jangan” itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya. Dan perkataan jangan juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada.
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya. Nas alulloha salaman wal afiyah.
Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.
Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan. Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.
Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.
Astagfirulloh! Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita semua..
Penulis : Ummu Hanim, [adivammar/voaislam.com]
[19:14 03/06/2014] Haikal: Kita telah melihat hasil dari teori pendidikan kita, maraknya Tawuran, pelecehan seksual, video porno anak2 SMP-SMU kekerasan dalam dunia pendidikan dari mulai tingkat SD, SMP, SMU dan PT.
Jadi selamat menggunakan teori Barat dan Yahudi, jika kita ingin menghasilkan generasi buruk dgn meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah.
Like · Reply · 73 · 5 hours ago
===========================================
Jawaban yg bagus sekali yang kami ambil dari penjelasan seorang Guru Besar yang menurut kami mumpuni dan bijaksana;
Sahabatku Bapak Rasyid,
Sy bisa memahami pemikiran Bapak, sebelum menulis yang pada akhirnya di baca banyak orang dan mempengaruhi cara berpikir orang lain, sehingga orang lain ikut-ikutan setuju dan salah juga dalam berpikir dan menafsirkannya. Ada baiknya kita banyak berkonsultasi pada guru-guru besar agama yang berjiwa besar dan berilmu mumpuni terlebih dahulu. Karena bisa jadi justtru kita yang mungkin belum paham apa pesan tersembunyi dari Al Qur'an dengan menggunakan kata jangan dalam Surat dan Ayat yang bapak sebutkan pada kolom komentar di artikel artikel dengan judul Pabrik BATAKO.
Berdasarkan hasil risetnya kata "JANGAN" itu hanya bisa di gunakan dalam keadaan baik2, netral, nyaman dan tidak dalam kondisi darurat atau dengan suara bernada tinggi/teriak atau marah. Karena dalam kondisi netral otak anak yang bekerja adalah otak Berpikir sempurna (neo cortex), sementara dalam keadaam emosional dan darurat otak manusia yang bekerja adalah OTAK REPTIL yang suka menyerang dengan kekerasan baik ucapan atau tindakan.. Otak reptil memiliki kelemahan utama tidak mampu mencerna kata "Jangan" karena kata "jangan" itu tidak termasuk "kata Kerja" atau "kata Benda". Jadi semisal anak kita sedang di tepi jurang dan kita TERIAK "JANGAN BERLARI KESANA" (teriak adalah ekspresi OTAK REPTIL) maka anak kita juga akan merespon dengan otak reptilnya"dan dia malah berlari kesana" maka jatuhlah anak kita.
Jadi apa bila kita sedang dalam KEADAAN DARURAT/KEPEPET sebaiknya gunakan kata kerja singkat misalnya, "Diam", "Berhenti", "Stop" karena jika anak kita sedang ingin berlari ke jalan raya sementara ada mobil sedang melaju kencang maka jika kita teriak "JANGAN LARI" maka ia akan tetap lari ke jalan dan mungkin saja akibatnya akan fatal. Silahkan di uji coba jika tidak yakin dan percaya. Saya sudah mencobanya berkali-kali pada anak saya, terutama anak saya yang lebih dominan otak kananya, maka benarlah demikian adanya.
Itulah mengapa dalam sistem perintah militer (karena militer itu selalu dikondisikan untuk situasi darurat) maka perintahnya akan berupa kata kerja misalnya " Seraaaang", "Serbuuuuu"... "Berhentiii !" "Tahaaaannnnn !!!!!" "Maju !!!" "Munduur" dsb.
Sadarkah kita semua alasan mengapa Al Qur'an menggunakan banyak kata "jangan" dalam surat dan ayat2nya ?
Nah setelah saya konsultasikan pada salah satu ulama besar yang berjiwa besar dan mumpuni beliau mengatakan bahwa ; "Karena kata jangan itu hanya bisa di respon apa bila kita dalam keadaan tenang, nyaman, sadar penuh dan berpikir sempurna" Maka itu artinya Tuhan sedang menitipkan pesan tersembunyi melalui Al Qur'an "agar setiap kandungan ajaran Al Qur'an itu selalu disampaikan dengan tenang dan bersuara lembut dan bukan dengan cara marah/keras atau teriak-teriak seperti dalam kondiri darurat perang"
Jadi sangat jelas sekali bahwa Al Qur'an itu harus di sampaikan dengan tenang, damai dan penuh kesantunan dengan suara lembut sebagaimana Suara Lembut Rasul saat berbicara pada para sahabat agar isinya bisa di response oleh otak berpikir sempurna dan bukan oleh OTAK REPTIL karena manusia sesungguhnya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna akalnya. (Masih ingatkah kita semua bahwa Rasul melarang kita meninggikan volume suara kita saat bertutur kata ? dan bahkan beliau membandingkan suara tinggi/keras itu seperti suara Keledai?
Ya sekali sang guru besar agama itu bertutur;
Tahukah kamu bahwa Al Qur'an berpesan pada kita semua melalui kata "Jangan" tadi, ya...agar manusia tidak menafsirkan Kandungan Al Qur'an dengan OTAK REPTILNYA. Dan jika kita meyampaikan Al Qur'an harus dengan suara lembut sebagaimana yang di lakukan Rasulnya, jika kita lebih suka menggunakan suara tinggi dan keras dalam menyampaikan isi kandungan Al Qur'an maka nanti ajaran-ajaran Islam itu seolah-olah akan selalu identik dengan Kekerasan dan kebencian semata, sebagaimana sifat dari OTAK REPTIL orang yang menyampaikannya dan OTAK REPTIL orang yang menerima dan meresponsenya.
Menurut para ahli otak/neuro sciencits ( sifat Otak berpikir sempurna akan selalu menciptakan kedamaian dan perdamaian, namun sebaliknya otak reptil akan selalu menyerang dan menciptakan kebencian pada sesama).
Kita semua memiliki ke dua jenis otak itu, Otak Sempurna/Neo Cortex di bagian paling atas kepala dan otak REPTIL berada dibawah dekat batang otak/batang leher kita. Namun tentunya kita punya pilihan masing-masing apakah kita ingin lebih menggunakan otak Berpikir sempurna atau lebih suka menggunakan otak reptil kita dalam berinteraksi sehari- hari dengan orang lain, keluarga juga melalui komen-komen yg dismpaikan di komunitas ini.
Jadi mulai sekarang kita semua sudah tahu jika ada komen yang bersifat menyerang dan sinis itu artinya sang penulis komen sedang menggunakan OTAK REPTIL dalam dirinya dan ia pasti dalam keadaan kurang sadar sempurna.
Para sahabatku,
Subhannallah !!, jadi ternyata Al Qur'an itu sedang berpesan pada kita semua melalui "kata jangan" yg tertulis di dalamnya, bahwa ajaran Al Qur'an itu harus di sampaikan dengan lembut dan penuh kesantunan, sungguh sesuai sekali dengan teori parenting dan hasil riset otak yg dilakukan oleh para Ahli Otak (neuro scientist).
Sungguh luar biasa bukan.? Sungguh Indah bukan pesan tersembunyi Al Qur'an bagi dunia parenting dan kita semua ?
Ah...Ternyata betapa sempitnya pengetahuan kita tentang Al Qur'an ya..? Al Qur'an kita yang sungguh memiliki kebenaran tanpa batas & sepanjang masa.
Jadi mulai saat ini, marilah jika kita ingin menyampaikan Ajaran Al Qur'an melalui "kata jangan" kepada anak-anak dan murid kita; lakukan dalam suasana yg tenang, nyaman, dengan suara lembut penuh kesantunan dan hati penuh kasih, sebagaimana yang dulu pernah di lakukan Rasul kepada para Sahabat, pada Keluarga dan anak-anak cucu beliau, dan bukan meninggikan suara dan berteriak-teriak seperti yang mungkin kita sering dengar saat ini, karena faktanya ternyata Rasul kita selalu bersuara lembut saat membahas ajaran-ajaran Al Qur'an pada ummatnya.
Mau ?
Dan untuk selanjutnya mari kita lebih berhati-hati dalam menafsirkan Al Qur'an yg berisikan ilmu pengetahuan yang tak terbatas, hanya dengan menggunakan pikiran kita yang terbatas ini.
Yuk kita belajar terus dan terus belajar agar pesan-pesan Al Qur'an yang sesungguhnya bisa tersampaikan sesuai keinginan Allah SWT dan bukan sesuai keinginan dan EGO pribadi kita semata, sehingga kita bisa menciptakan kedamaian dan keselarasan hidup kita semua, memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta dan bukan malah menebarkan dendam dan kebencian pada sesama muslim dan sesama mahluk ciptaan Allah SWT.

Sumber :  Komunitas Ayah Edy

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan kritik dan saran Anda, untuk kemajuan, kemudahan, serta isi yang bermanfaat di blog ini,
dan mohon do'anya juga :)
Terima Kasih

Assalamu'alaikum


Top