Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

BERPIKIR LUAS, ARIF DAN BIJAKSANA DALAM MENAFSIRKAN AL QUR'AN


BERPIKIR LUAS, ARIF DAN BIJAKSANA DALAM MENAFSIRKAN AL QUR'AN agar Al Qur'an bisa menjadi jalan yang Rahmatan Lil Alamiin dan bukan hanya menjadi alasan bagi kita untuk menghujat orang lain dan menebar kebencian antar sesama muslim atau umat lainnya.
SEBUAH RENUNGAN DI PEKAN TERAKHIR BULAN SUCI YANG MELATIH KERENDAHAN HATI, KESABARAN DAN KEARIFAN KITA.
Berikut petikan dialog kami yang perlu di pahami dengan hati bijaksana dan penuh kearifan.
Komentar dari salah satu facebooker tentang parenting:
Rasyid Ridho Zunnury [19:14 03/06/2014] Haikal:
Dari dulu ana mempertanyakan teori TIDAK BOLEH BERKATA JANGAN KEPADA ANAK. Sempat terfikirkan oleh ana, bukankah kalimat Jangan digunakan dalam Al-Qur'an dan Sunnah
Seperti Laa Taghdhab wa lakal jannah..
Apakah pendidikan Allaah dan Rasul-Nya tidak lebih baik dari para pakar psikologi barat...??
[19:14 03/06/2014] Haikal: Ketika mengikuti sebuah acara ttg pendidikan..ana terheran2 dgn pembicara yg melarang menggunakan kata JANGAN kepada anak didik..
[19:14 03/06/2014] Haikal: Akhmad S.Psi
Kekeliruan Buku Pendidikan : Mengharamkan Kata “Jangan”
Salah seorang pendidik pernah berkata, “pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh yahudi adalah yaitu dunia psikologidan dunia pendidikan.
Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa “kekeliruan” pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dan lainnya.
Saking masifnya sebaran tersebut, kita juga terkadang kesulitan untuk tidak mengucapkan kata jangan pada anak-anak kita. Terasa mengganjal di benak kita karena bertentangan dengan fitrah manusia apabila dalam kondisi panik dan terjepit akan mengucapkan kata ‘jangan’.
Misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini”. Tentu anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Berbeda jika kita secara refleks katakam pada anak kita “jangan nak nanti jatuh, berbahaya…” Sang anak akan kaget dan menhentikan langkahnya.
…misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini“. Anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Sudah menjangkiti beberapa para pendidik muslim, baik para ayah dan ibu, yang tercuci otaknya dan melarang berkata “Jangan” pada anak.
Mari kita lihat, beberapa perkataan-perkataan ‘dalam pendidikan’ tentang larangan mengucapkan kata jangan pada anak.
Diantaranya Ayah Edy, dia mengatakan pada bukunya yang berjudul ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30, “..gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati, berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata ‘jangan’ karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata ‘jangan’.
Pada media online, detik.com, pernah menulis judul artikel ‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’, atau “…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak…”
Pada sebuah artikel lain, berjudul, “Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, “Kata ‘jangan’ akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orang tua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak…”
Nah, inilah syubhat (keraguan) yang digembar-gemborkan media sekuler dayng merujuk pada psikolog atheis dan Yahudi. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang kronis.
Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata ‘jangan’, apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata “Laa (jangan)”?
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.
Allahu akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan ayat-ayat kebenaran ini? Apa mau dibuang? Dan diadopsi dari teori dhoif? Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman AL- Hakim?
Dalam Al Quran ada surat Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“ walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)
Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif yang ada dalam al-Qur’an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “ laa ” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti “jangan” dengan “diam/hati-hati”?Karena ini bimbingan Alloh.
Perkataan “jangan” itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya. Dan perkataan jangan juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada.
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya. Nas alulloha salaman wal afiyah.
Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.
Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan. Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.
Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.
Astagfirulloh! Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita semua..
Penulis : Ummu Hanim, [adivammar/voaislam.com]
[19:14 03/06/2014] Haikal: Kita telah melihat hasil dari teori pendidikan kita, maraknya Tawuran, pelecehan seksual, video porno anak2 SMP-SMU kekerasan dalam dunia pendidikan dari mulai tingkat SD, SMP, SMU dan PT.
Jadi selamat menggunakan teori Barat dan Yahudi, jika kita ingin menghasilkan generasi buruk dgn meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah.
Like · Reply · 73 · 5 hours ago
===========================================
Jawaban yg bagus sekali yang kami ambil dari penjelasan seorang Guru Besar yang menurut kami mumpuni dan bijaksana;
Sahabatku Bapak Rasyid,
Sy bisa memahami pemikiran Bapak, sebelum menulis yang pada akhirnya di baca banyak orang dan mempengaruhi cara berpikir orang lain, sehingga orang lain ikut-ikutan setuju dan salah juga dalam berpikir dan menafsirkannya. Ada baiknya kita banyak berkonsultasi pada guru-guru besar agama yang berjiwa besar dan berilmu mumpuni terlebih dahulu. Karena bisa jadi justtru kita yang mungkin belum paham apa pesan tersembunyi dari Al Qur'an dengan menggunakan kata jangan dalam Surat dan Ayat yang bapak sebutkan pada kolom komentar di artikel artikel dengan judul Pabrik BATAKO.
Berdasarkan hasil risetnya kata "JANGAN" itu hanya bisa di gunakan dalam keadaan baik2, netral, nyaman dan tidak dalam kondisi darurat atau dengan suara bernada tinggi/teriak atau marah. Karena dalam kondisi netral otak anak yang bekerja adalah otak Berpikir sempurna (neo cortex), sementara dalam keadaam emosional dan darurat otak manusia yang bekerja adalah OTAK REPTIL yang suka menyerang dengan kekerasan baik ucapan atau tindakan.. Otak reptil memiliki kelemahan utama tidak mampu mencerna kata "Jangan" karena kata "jangan" itu tidak termasuk "kata Kerja" atau "kata Benda". Jadi semisal anak kita sedang di tepi jurang dan kita TERIAK "JANGAN BERLARI KESANA" (teriak adalah ekspresi OTAK REPTIL) maka anak kita juga akan merespon dengan otak reptilnya"dan dia malah berlari kesana" maka jatuhlah anak kita.
Jadi apa bila kita sedang dalam KEADAAN DARURAT/KEPEPET sebaiknya gunakan kata kerja singkat misalnya, "Diam", "Berhenti", "Stop" karena jika anak kita sedang ingin berlari ke jalan raya sementara ada mobil sedang melaju kencang maka jika kita teriak "JANGAN LARI" maka ia akan tetap lari ke jalan dan mungkin saja akibatnya akan fatal. Silahkan di uji coba jika tidak yakin dan percaya. Saya sudah mencobanya berkali-kali pada anak saya, terutama anak saya yang lebih dominan otak kananya, maka benarlah demikian adanya.
Itulah mengapa dalam sistem perintah militer (karena militer itu selalu dikondisikan untuk situasi darurat) maka perintahnya akan berupa kata kerja misalnya " Seraaaang", "Serbuuuuu"... "Berhentiii !" "Tahaaaannnnn !!!!!" "Maju !!!" "Munduur" dsb.
Sadarkah kita semua alasan mengapa Al Qur'an menggunakan banyak kata "jangan" dalam surat dan ayat2nya ?
Nah setelah saya konsultasikan pada salah satu ulama besar yang berjiwa besar dan mumpuni beliau mengatakan bahwa ; "Karena kata jangan itu hanya bisa di respon apa bila kita dalam keadaan tenang, nyaman, sadar penuh dan berpikir sempurna" Maka itu artinya Tuhan sedang menitipkan pesan tersembunyi melalui Al Qur'an "agar setiap kandungan ajaran Al Qur'an itu selalu disampaikan dengan tenang dan bersuara lembut dan bukan dengan cara marah/keras atau teriak-teriak seperti dalam kondiri darurat perang"
Jadi sangat jelas sekali bahwa Al Qur'an itu harus di sampaikan dengan tenang, damai dan penuh kesantunan dengan suara lembut sebagaimana Suara Lembut Rasul saat berbicara pada para sahabat agar isinya bisa di response oleh otak berpikir sempurna dan bukan oleh OTAK REPTIL karena manusia sesungguhnya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna akalnya. (Masih ingatkah kita semua bahwa Rasul melarang kita meninggikan volume suara kita saat bertutur kata ? dan bahkan beliau membandingkan suara tinggi/keras itu seperti suara Keledai?
Ya sekali sang guru besar agama itu bertutur;
Tahukah kamu bahwa Al Qur'an berpesan pada kita semua melalui kata "Jangan" tadi, ya...agar manusia tidak menafsirkan Kandungan Al Qur'an dengan OTAK REPTILNYA. Dan jika kita meyampaikan Al Qur'an harus dengan suara lembut sebagaimana yang di lakukan Rasulnya, jika kita lebih suka menggunakan suara tinggi dan keras dalam menyampaikan isi kandungan Al Qur'an maka nanti ajaran-ajaran Islam itu seolah-olah akan selalu identik dengan Kekerasan dan kebencian semata, sebagaimana sifat dari OTAK REPTIL orang yang menyampaikannya dan OTAK REPTIL orang yang menerima dan meresponsenya.
Menurut para ahli otak/neuro sciencits ( sifat Otak berpikir sempurna akan selalu menciptakan kedamaian dan perdamaian, namun sebaliknya otak reptil akan selalu menyerang dan menciptakan kebencian pada sesama).
Kita semua memiliki ke dua jenis otak itu, Otak Sempurna/Neo Cortex di bagian paling atas kepala dan otak REPTIL berada dibawah dekat batang otak/batang leher kita. Namun tentunya kita punya pilihan masing-masing apakah kita ingin lebih menggunakan otak Berpikir sempurna atau lebih suka menggunakan otak reptil kita dalam berinteraksi sehari- hari dengan orang lain, keluarga juga melalui komen-komen yg dismpaikan di komunitas ini.
Jadi mulai sekarang kita semua sudah tahu jika ada komen yang bersifat menyerang dan sinis itu artinya sang penulis komen sedang menggunakan OTAK REPTIL dalam dirinya dan ia pasti dalam keadaan kurang sadar sempurna.
Para sahabatku,
Subhannallah !!, jadi ternyata Al Qur'an itu sedang berpesan pada kita semua melalui "kata jangan" yg tertulis di dalamnya, bahwa ajaran Al Qur'an itu harus di sampaikan dengan lembut dan penuh kesantunan, sungguh sesuai sekali dengan teori parenting dan hasil riset otak yg dilakukan oleh para Ahli Otak (neuro scientist).
Sungguh luar biasa bukan.? Sungguh Indah bukan pesan tersembunyi Al Qur'an bagi dunia parenting dan kita semua ?
Ah...Ternyata betapa sempitnya pengetahuan kita tentang Al Qur'an ya..? Al Qur'an kita yang sungguh memiliki kebenaran tanpa batas & sepanjang masa.
Jadi mulai saat ini, marilah jika kita ingin menyampaikan Ajaran Al Qur'an melalui "kata jangan" kepada anak-anak dan murid kita; lakukan dalam suasana yg tenang, nyaman, dengan suara lembut penuh kesantunan dan hati penuh kasih, sebagaimana yang dulu pernah di lakukan Rasul kepada para Sahabat, pada Keluarga dan anak-anak cucu beliau, dan bukan meninggikan suara dan berteriak-teriak seperti yang mungkin kita sering dengar saat ini, karena faktanya ternyata Rasul kita selalu bersuara lembut saat membahas ajaran-ajaran Al Qur'an pada ummatnya.
Mau ?
Dan untuk selanjutnya mari kita lebih berhati-hati dalam menafsirkan Al Qur'an yg berisikan ilmu pengetahuan yang tak terbatas, hanya dengan menggunakan pikiran kita yang terbatas ini.
Yuk kita belajar terus dan terus belajar agar pesan-pesan Al Qur'an yang sesungguhnya bisa tersampaikan sesuai keinginan Allah SWT dan bukan sesuai keinginan dan EGO pribadi kita semata, sehingga kita bisa menciptakan kedamaian dan keselarasan hidup kita semua, memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta dan bukan malah menebarkan dendam dan kebencian pada sesama muslim dan sesama mahluk ciptaan Allah SWT.

Sumber :  Komunitas Ayah Edy

Cahaya Hati Metro TV Ramadhan 1435H, 2014M

Download Cahaya Hati Metro TV Ramadhan 1435H, 2014M, full download, 124 MB :

Download Cahaya Hati Metro TV Ramadhan 1435H, 2014M, perhari download :
Cahaya Hati Metro TV - 1435H,2014M
Link Download
Cahaya Hati - Metro TV ~ 29-06-2014, Awal Sebuah Kesuksesan
Cahaya Hati - Metro TV ~ 30-06-2014, Kesenangan yang Menipu
Cahaya Hati - Metro TV ~ 01-07-2014, Rumus Bahagia dan Berkecukupan
Cahaya Hati - Metro TV ~ 02-07-2014, Mahadaya Doa
Cahaya Hati - Metro TV ~ 03-07-2014, Hidup Bersama Wahyu
Cahaya Hati - Metro TV ~ 04-07-2014, Berguna dengan Berkarya
Cahaya Hati - Metro TV ~ 05-07-2014, Jalin lah Hubungan
Cahaya Hati - Metro TV ~ 06-07-2014, Kemanusiaan Orang Indonesia
Cahaya Hati - Metro TV ~ 07-07-2014, Amanah dan Khianat
Cahaya Hati - Metro TV ~ 08-07-2014, Berkoalisi dengan Kebenaran
Cahaya Hati - Metro TV ~ 09-07-2014, Setia pada Sumpah
Cahaya Hati - Metro TV ~ 10-07-2014, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Cahaya Hati - Metro TV ~ 11-07-2014, Satu Hati Satu Saudara
Cahaya Hati - Metro TV ~ 12-07-2014, Bangsa Berketuhanan
Cahaya Hati - Metro TV ~ 13-07-2014, Memenangkan Keyakinan Publik
Cahaya Hati - Metro TV ~ 14-07-2014, Nilai Waktu
Cahaya Hati - Metro TV ~ 15-07-2014, Tautkan Hati dengan Hati
Cahaya Hati - Metro TV ~ 16-07-2014, Keadilan Sosial
Cahaya Hati - Metro TV ~ 17-07-2014, Berani Jujur
Cahaya Hati - Metro TV ~ 18-07-2014, Spiritualitas Jihad Harta
Cahaya Hati - Metro TV ~ 19-07-2014, Jangan Sekutukan Allah
Cahaya Hati - Metro TV ~ 21-07-2014, Merasa Diawasi Allah
Cahaya Hati - Metro TV ~ 23-07-2014, Agar Perahu Tak Tenggelam
Cahaya Hati - Metro TV ~ 24-07-2014, Sabar Kunci Sukses
Cahaya Hati - Metro TV ~ 25-07-2014, Nikmatnya Berpuasa
Cahaya Hati - Metro TV ~ 26-07-2014, Menjemput Malam Qadar dengan Itikaf
Cahaya Hati - Metro TV ~ 27-07-2014, Hari Kemenangan

20 Cara Menguatkan Iman Anda


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”

Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.

Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)

Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)

Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)

Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)

Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.

1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran

Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).

Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”

2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.

Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.

Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)

3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.

Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.

Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.

4. Mengikutilah halaqah dzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dan kehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”

Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)

Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.

5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)

Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)

Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)

Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)

6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.

Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.

Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)

7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.

8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)

Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)

Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.

Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.

9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.

Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.

10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)

Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”

11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)

Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”

12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)

Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.

13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.

Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)

“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)

14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)

Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)

Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.

15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)

Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.

Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”

16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.

Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.

17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)

Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)

Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.

18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)

19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.

20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”

Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.

Sumber : Pribadi Manfaat

Hikmah Berqurban


Diantara Hikmah Qurban


  1. Bukit CINTA SEJATI kpd ALLAH sebagamana Nabi Ibrahim sekeluarga berqurban (QS 37:102-111).
  2. Bukti nyata BERSYUKUR, “Supaya mereka menyebut nama ALLAH atas apa yg ALLAH rizkikan kepada mereka berupa binatang ternak…” (QS 22:34).
  3. Bukti sebagai hamba BERTAQWA, “Daging-daging unta & darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) ALLAH, tetapi ketaqwaan dari kamulah yg dapat mencapainya…” (QS 22:37).
  4. Berhak BERIBADAH kepada ALLAH, “Barang siapa yg mempunyai keluasan (harta) & tdk mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami!” (HR. Ahmad)
  5. Meraih AMPUNAN dosa, ”Fatimah, berdirilah & saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pd saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yg kamu lakukan... (HR. Abu Daud & At-Tirmizi).
  6. PAHALA BESAR, "Pada tiap2 lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan" (HR. Ahmad & Ibnu Majah).
  7. Hewan Qurban BERSAKSI, Sesungguhnya ia (hewan qurban) akan datang pada hari kiamat dg tanduk, kuku & bulu2nya. & sesungguhnya darah hewan qurban akan jatuh pd sebuah tempat didekat ALLAH sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka berbahagialah jiwa dengannya". (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah & Al Hakim)
  8. Karena ia bersyukur atas NI'MAT ALLAH maka ALLAH tambahkan lagi ni'mat-ni'mat yg banyak untuknya (QS 14:7)

Sia-sia Ibadah Wanita yang tidak Ber-jilbab, Ber-Hijab serta siksa duniawi


Rasulullah bersabda, “Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak mencium semerbak harumnya "(HR. Abu Daud)

dan Sabda Rasulullah lainnya,” Tidak diterima solat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab / hijab)" (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, bn Majah)

Kajian ilmiah kontemporari telah mendapati perempuan yang tidak bertudung atau berpakaian tetapi ketat, atau telus, akan mengalami berbagai penyakit kanker di bagian anggota tubuhnya yang terbuka dan yang mengenakan pakaian ketat-ketat. Majalah perubatan Britain mengeluarkan hasil kajian ilmiah ini dengan mengutip beberapa fakta, antaranya bahwa kanker milanoma pada usia awal, dan semakin bertambah dan merebak sehingga di kaki.

Sebab utama penyakit kanker ini adalah pakaian ketat yang dikenakan oleh perempuan di bawah terik matahari dalam waktu yang panjang selepas bertahun-tahun. Sarung kaki nilon yang mereka kenakan tidak sedikitpun bermanfaat dalam menjaga kaki mereka dari kanker. Majalah perubatan Britain tersebut pun telah melakukan penelitian tentang penyakit milanoma ini, dan seolah keadaan mereka mirip dengan keadaan orang-orang pendurhaka (orang-orang kafir Arab) yang di da’wahi oleh Rasulullah. Tentang hal ini Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika mereka katakan: Ya Allah andai hal ini (Al-Qur’an) adalah benar dari sisimu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Surah Al-Anfaal: 32)

Dan sungguh telah datang azab yang pedih ataupun yang lebih ringan dari hal itu, yaitu kanker di mana kanker itu adalah seganas-ganasnya kanker dari beragai kanker. Penyakit ini merupakan akibat dari sengatan matahari yang mengandungi ultra violet dalam waktu yang panjang disetiap pakaian yang ketat, pakaian pantai (yang biasa dipakai orang-orang kafir ketika di pantai dan berjemur di sana) yang mereka kenakan. Penyakit ini terkadang mengenai seluruh tubuh dan dengan kadar yang berbeda-beda. Gejala awal adalah seperti bulatan berwarna hitam agak lebar. Kadang-kadang berupa bulatan kecil saja, kebanyakan di kawasan kaki atau betis dan di kawasan sekitar mata, kemudian merebak ke seluruh bagian tubuh disertai pertumbuhan di kawasan yang biasa dilihat, pertautan limpa (kawasan di atas paha), dan menyerang darah, dan menetap di hati serta merusaknya.
Ia juga bisa menyerang janin di dalam rahim ibu yang sedang mengandung. Orang yang menderita kanker ini tidak akan hidup lama.
Dari sini, kita mengetahui hikmah yang agung anatomi tubuh manusia di dalam perspektif Islam tentang perempuan-perempuan yang melanggar batas-batas syariat yaitu bahwa model pakaian perempuan yang benar adalah yang menutupi seluruh tubuhnya, tidak ketat, tidak tembus pandang, kecuali wajah dan telapak tangan.
Semakin jelaslah bahwa pakaian yang sederhana dan sopan adalah upaya preventif yang paling bagus agar tidak terkena “azab dunia” seperti penyakit tersebut di atas, apalagi azab akhirat yang jauh lebih dahsyat dan pedih. Kemudian, apakah setelah adanya kesaksian dari ilmu pengetahuan kontemporari ini-padahal sudah ada penegasan hukum syari’at yang bijak sejak 14 abad silam-kita akan tetap tidak berpakaian yang baik (jilbab/hijab), bahkan malah tetap bertabarruj???

(Sumber: Al-I’jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah, Oleh: Muhammad Kamil Abd Al-Shomad)

Waktu dan tempat yang do'anya makbul


Ibnu 'Atha' menjelaskan doa itu mempunyai beberapa rukun (sendi) yang menyebabkan teguh dan kuat berdirinya, mempunyai beberapa sayap yang menyebabkan ia naik ke langit tinggi, mempunyai beberapa sebab yang menyebabkan diterimanya. Maka apabila doa-doa itu dilekatkan di atas rukun-rukun (sendi-sendinya), maka kokoh dan tegaklah berdirinya doa itu. Jika ia mempunyai sayap, maka terbanglah ia ke langit menuju tujuannya dan jika ada sebabnya, maka diterimalah doa itu."

Menurut Ibnu 'Atha', rukun-rukun doa itu, ialah: kehadiran hati bila berdoa, serta tunduk menghinakan diri kepada Allah.

Sayap-sayapnya, ialah: berdoa dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dan lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Sebab utama doa diterima ialah bershalawat kepada Nabi sebelum berdoa.

Waktu-waktu untuk berdoa, ialah :

  1. Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
  2. Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
  3. Ketika turun hujan.
  4. Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
  5. Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
  6. Di tengah malam.
  7. Di antara adzan dan iqamat.
  8. Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
  9. Ketika sujud dalam shalat.
  10. Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
  11. Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
  12. Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
  13. Antafa Zhuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
  14. Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
  15. Pada waktu minum air zam-zam.


Nabi Saw. bersabda:
Artinya: "Tuhan turun ke langit dunia, ketika malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa yang mendoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan doanya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dia." (HR. Bukhârî dan Muslim).

Artinya: "Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana jika seseorang Muslim memohon kepada Allah suatu kebajikan dunia dan akhirat ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya." (HR. Muslim).

Artinya: "Mendoalah di saat doa itu diperkenankan Tuhan; yatu: di saat berjumpa pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan salat dan ketika turun hujan." (HR. Al-Syâfi'i).

Artinya: "Tidak ditolak suatu doa yang dimohonkan antara adzan dan iqamat. (HR. Al-Turmudzî).

Artinya: "Inginkah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari musuh-musuh dan memudahkan tezeki bagi kalian? Maka berdoalah kalian kepada Allah diwaktu malam dan diwaktu siang. Karena sesunggunya doa itu adalah senjata orang mukmin."(HR. Abû Ya'lâ).

Artinya: "Ditanyakan orang kepada Rasulullah Saw. Wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah."? Rasulullah menjawab: "Doa ditengah malam dan doa setelah shalat wajib." (HR. Al-Turmudzî).


Artinya: "Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika itu)." (HR. Muslim).

Artinya: "Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut. Dan tinggalkanlah (cara-cara) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (Al-A'râf: 180)

Tempat-tempat yang baik untuk berdoa :

  1. Di kala melihat ka'bah.
  2. Di kala me1ihat mesjid Rasulullah Saw.
  3. Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
  4. Di sisi Multazam. Didalam Ka'bah.
  5. Di sisi sumur Zamzam.
  6. Di belakang makam Ibrahim.
  7. Di atas bukit Shafa dan Marwah.
  8. Di 'Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
  9. Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.
Dan tentunya kewajiban dilaksanakan dan meninggalkan semua larangan Allah subhanahu wa ta'ala 


Sumber : abatasa
▲
Top